Asep Sunandar Sunarya di Google Doodle Hari ini

No comment 722 views
Bola Tangkas

Asep Sunandar Sunarya di Google Doodle Hari ini

Jika anda membuka halaman pertama situs Google hari ini 3 September 2016, maka Anda akan menemukan logo Google yang berbeda dari biasanya. Yah.. Google Doodle hari ini memang memperingati hari lahir Seniman Legendaris Indonesia, Asep Sunandar Sunarya. Tapi tahukah Anda bagaimana sejarah Asep Sunandar Sunarya hingga menjadi seorang dalang wayang golek yang begitu melekat di hari orang Indonesia?

Dilansir dari laman wikipedia.orgAsep Sunandar Sunarya adalah anak ke-7 dari 13 bersaudara, ia lahir dari pasangan Tjutjun Jubaedah (biasa dipanggil Abu Tjutjun) dan Ayahnya Abeng Sunarya (Abah Suanrya) yang juga merupakan seroang dalang yang sangat terkenal pada masanya.

Foto Biografi Asep Sunandar Sunarya

Uniknya, Asep Sunandar tidak di beri nama ketika lahir, karena sang ibu, pada saat mengandungnya bermimpi bahwa anak ke-7 nya itu tidak boleh diberi nama.

Hingga lahir lah seorang bayi laki-laki tanggal 3 September 1955 dengan tidak diberi nama.

Saat bayi tersebut berusia 15 bulan, ia kemudian diberikan kepada Ma Jaja, yang tak lain adalah Bibi dari bayi tersebut (Adik Abah Sunarya).

Karena sang Bayi tidak bernama tentu ada kekhawatiran pada diri Ma Jaja jika tetangganya menanyakan perihal nama Bayi tersebut.

Untuk menyiasatinya maka Ma Jaja berfikir keras hingga muncul ide panggilan Sukana yakni semacam akronim dari Bahasa Sunda yang berarti sa suka na (sesukanya).

kemudian “Sukana” menjadi semacam “nama” bagi Bayi tersebut. Ide ini datang sebagai solusi jitu sebab dengan cara seperti itu Ma Jaja tidak melanggar apa yang diamanatkan oleh sang Kaka yang tidak boleh memberi nama pada bayi tersebut.

Kemudian , Sukana dipanggil “Asep Sukana” (Asep adalah panggilan untuk anak laki-laki di Sunda, terkadang Ujang atau encep)

Pada diri Asep mengalir darah seni dari Ayahnya yang seorang Dalang, Abah Sunarya.

Sejak usia 7 tahun ( kelas 1 SD) minat Asep terhadap wayang golek sudah mulai tumbuh. Selain karna faktor turunan juga memang pada zaman itu pagelaran seni Wayang Golek begitu digandrungi oleh masyarakat.

Juga, pada saat itu belum ada banyak dari jenis seni lainnya sebagaimana terjadi pada zaman sekarang.

Bakat Sukana kecil ia perlihatkan dengan kegemarannya membuat wawayangan dari ranting-ranting pohon yang jatuh, tanah liat, dan daun singkong.

Asep Sukana yang hidup dibelaian Ma Jaja, tentu saja menganggap bahwa Ma Jaja adalah Ibu kandungannya sendiri.

Paling kurang selama 16 tahun Asep Sukana tidak pernah tahu siapa orangtua kandungnya.

Namun berkat kebijakan dari Ma Jaja maka akhirnya Asep mengetahui siapa ayah dan ibu kandungnya.

Akhirnya ada suatu kesempatan, Ma Jaja, Abeng Sunarya (Abah Sunarya), dan Tjutjun Jubaedah bertemu, tersibaklah kemudian asal-usul atau silsilah keluarga yang sebernarnya.

Suatu ketika saat Asep Sukana manggung di Luragung, ia mendalang siang hari, sedangkan pada malam harinya yang menjadi dalang adalah Abah Sunarya, maka saat itulah Abah Sunarya berujar:“Ngewa ngaran Sukana, ganti ku Sunandar!” Artinya, “Jelek nama Sukana, ganti saja dengan Sunandar”.

Sejak saat itulah Asep Sukana berubah menjadi Asep Sunandar, sedangkan nama Sunarya merupakan nama Ayahnya yang kemudian digunakannya.

Hal ini lazim terjadi di Masyarakat Sunda khususnya, dimana nama Ayah kerap digunakan dibelakang nama anaknya.

Pada tanggal 31 Maret 2014, Asep Sunarya Sunarya meninggal dunia dalam perjalanan menuju rumah sakit Al-Ihsan Bandung.

Advertisements